Kita ingin dianggap memiliki banyak teman (dalam kelompok), tetapi kita tidak benar-benar ingin bekerja sama. Kita hanya ingin diakui eksistensinya.
Sebagai generasi penerus, sudah saatnya mengembalikan kerja kelompok pada fitrahnya: Bukan memilih teman berdasarkan siapa yang paling asik diajak nongkrong . viral alibinya kerja kelompok taunya cuma mau n exclusive
Kesimpulan Viral alibinya kerja kelompok taunya cuma mau nge-exclusive bukanlah sekadar tren sesaat. Ini adalah gejala dari miskonsepsi kolaborasi di era media sosial. Ketika validasi sosial (like, comment, dan status) lebih dihargai daripada kontribusi akademik, maka fungsi pendidikan sebagai pembentuk karakter kolektif akan runtuh. Kita ingin dianggap memiliki banyak teman (dalam kelompok),
Jakarta, Indonesia – Dunia pendidikan tinggi sedang diramaikan oleh sebuah frasa yang melejit di lini masa Twitter (X), TikTok, dan Instagram. Frasa itu adalah: "Viral alibinya kerja kelompok taunya cuma mau nge-exclusive." Kesimpulan Viral alibinya kerja kelompok taunya cuma mau
Bagi yang belum familiar, frasa ini menggambarkan sebuah sindiran pedas sekaligus lucu terhadap fenomena di kalangan mahasiswa yang menggunakan project based learning (kerja kelompok) sebagai tameng untuk tujuan sosial yang sama sekali berbeda: membentuk geng eksklusif.